Kisah Putri Mandalika Bukan Sekedar Legenda, Tapi Ramalan yang Sedang Berjalan

Kisah Putri Mandalika Bukan Sekedar Legenda, Tapi Ramalan yang Sedang Berjalan

Patung Putri Mandalika di Pantai Seger, Lombok Tengah-Dok: Moh Sinardi-

Mataram, Disway Lombok - Legenda Putri Mandalika tidak pernah benar-benar selesai diceritakan.

Dari generasi ke generasi, kisah pengorbanan Putri Mandalika dan tradisi Bau Nyale terus hidup di tengah masyarakat Lombok. Namun, di tengah pesatnya pembangunan kawasan Mandalika, Lombok Tengah, cerita tersebut seolah menemukan tafsir baru.

Legenda itu bahkan dinilai seperti cermin yang memantulkan kondisi Mandalika hari ini.

Pandangan tersebut disampaikan Rata Wijaya, Ketua Blok Pujut, saat berbicara mengenai makna di balik tradisi Bau Nyale.

Menurut Rata, kisah Putri Mandalika tidak sebatas cerita budaya atau memiliki nilai teologis. Ada pesan yang menurutnya masih relevan dengan perkembangan kawasan Mandalika saat ini.

BACA JUGA:MotoGP Mandalika 2026: Polda NTB Himbau Penonton Tak Bawa Balita

Ia mengawali pandangannya dari satu hal yang sulit dibantah: pesona alam Mandalika.

Perbukitan yang membentang, garis pantai yang berkelok hingga lanskap kawasan yang khas membuat Mandalika menjadi salah satu kawasan yang menarik perhatian banyak orang.

Bahkan, Rata membandingkan karakter bentang alam Mandalika dengan Phillip Island Circuit di Australia.

“Kalau diibaratkan gadis, Mandalika itu seperti perempuan dengan lesung pipi, manis, kuning langsat kulitnya, dengan segala keindahannya,” ujarnya.

Keindahan tersebut kemudian menjadi magnet bagi banyak pihak.

BACA JUGA:Jelang MotoGP Mandalika, Stok BBM dan LPG NTB Dipantau

Bukan hanya wisatawan yang datang menikmati kawasan Mandalika. Investor juga berdatangan untuk mengambil bagian dalam pertumbuhan kawasan yang kini menjadi salah satu destinasi pariwisata utama di Lombok.

Menurut Rata, kondisi itu seperti perlombaan untuk mendapatkan "hati" Mandalika.

“Semua orang tertarik untuk mendapatkan hati Mandalika. Sekarang semua ingin investasi, ingin mendapatkan ruang di Mandalika,” jelasnya.

Fenomena tersebut, kata Rata, terlihat dari semakin banyaknya bangunan yang tumbuh di kawasan Mandalika.

Vila, restoran hingga berbagai properti dengan desain yang dibuat menarik bermunculan. Baginya, bangunan-bangunan tersebut seperti bentuk "seserahan" yang diberikan kepada Mandalika.

“Semua orang memberikan seserahan, menciptakan pigura terbaik dalam bentuk properti, vila unik, restoran keren, semuanya dipersembahkan ke Mandalika untuk mendapatkan hati,” sambungnya.

BACA JUGA:Rekayasa Lalu Lintas Mataram Jelang Pawai Rider MotoGP 2026, Cek Titik Pengalihannya

MotoGP dan "Perebutan" Mandalika

Perubahan wajah Mandalika tidak hanya terlihat dari pembangunan properti.

Kehadiran Sirkuit Internasional Pertamina Mandalika dan penyelenggaraan MotoGP turut membawa kawasan tersebut ke panggung dunia.

Bagi Rata, ada simbol yang menarik jika realitas tersebut dikaitkan dengan legenda Putri Mandalika.

Para pembalap MotoGP datang untuk memperebutkan posisi terdepan. Mereka bertarung menjadi yang tercepat di lintasan Mandalika.

“Kalau kita cocokologi sedikit, semua orang di MotoGP itu kontes untuk jadi nomor satu. Seperti pangeran yang ingin menjuarai Mandalika,” ujarnya.

Namun, di balik geliat pembangunan dan gemerlap pariwisata tersebut, Rata melihat ada pesan lain yang tidak boleh diabaikan.

BACA JUGA:MotoGP Mandalika Bukan Sekadar Balapan, tapi Panggung Emas bagi UMKM Lokal

Ia mengaitkannya dengan Nyale, cacing laut yang setiap tahun muncul dan menjadi bagian penting dari tradisi masyarakat Sasak.

Bagi Rata, Nyale bukan hanya bagian dari ritual budaya. Kemunculannya juga dapat dimaknai sebagai pengingat agar perkembangan Mandalika tidak mengabaikan masyarakat dan lingkungan.

Bagi Rata, kisah Putri Mandalika tidak semestinya ditempatkan hanya sebagai cerita masa lalu. Namun menurut dia, masih dapat dibaca sebagai refleksi terhadap kondisi Mandalika saat ini.

Kisah Putri Mandalika yang diwariskan turun-temurun kembali dibaca dalam konteks perubahan kawasan yang begitu cepat. Pembangunan, investasi, pariwisata dan MotoGP menjadi wajah baru Mandalika.

Namun, di balik seluruh kemajuan itu, pesan tentang keseimbangan, keadilan dan kehidupan masyarakat tetap menjadi bagian yang tidak terpisahkan.

“Bahwa memang cerita ini sangat sarat dengan nilai ajar,” tutupnya.

Sumber: