Bahasa Sasak Terancam Tergerus, Kongres Internasional Digelar Akhir Oktober
Majelis Adat Sasak (MAS) akan menggelar Kongres Internasional I Bahasa Sasak pada 28–30 Oktober 2026.-Ilustrasi-
MATARAM, DISWAY LOMBOK — Penggunaan bahasa Sasak di tengah masyarakat terus mengalami perubahan seiring perkembangan zaman dan teknologi digital. Fenomena penggunaan bahasa campuran hingga bahasa Indonesia dalam percakapan sehari-hari dinilai menjadi tantangan bagi keberlangsungan bahasa ibu masyarakat Sasak di Pulau Lombok.
Ketua Panitia Kongres Internasional I Bahasa Sasak, Dr. Chae Khaeril Anwar, mengatakan pergeseran penggunaan bahasa daerah tidak hanya terjadi di Lombok, tetapi juga di berbagai daerah lain.
“Ini fenomena yang terjadi hampir di semua daerah tidak hanya di Lombok,” tutur Chae Khaeril Anwar, Rabu (14/10/2026).
Menurutnya, bahasa Sasak terus berkembang dan berakulturasi dengan bahasa lain, seperti bahasa Jawa, Sunda, Indonesia, dan Arab. Namun, penggunaan bahasa campuran yang semakin umum dalam pergaulan sehari-hari perlu menjadi perhatian agar tidak mengurangi penggunaan bahasa Sasak sebagai bahasa ibu.
BACA JUGA:Karhutla Belum Terkendali, Komisi IV DPR RI Desak Pemerintah Tetapkan Status Bencana Nasional
Untuk membahas persoalan tersebut, Majelis Adat Sasak (MAS) akan menggelar Kongres Internasional I Bahasa Sasak pada 28–30 Oktober 2026. Kegiatan ini diharapkan menjadi ruang untuk merumuskan langkah pembinaan, pelestarian, dan pengembangan bahasa Sasak di tengah perubahan sosial dan teknologi.
Chae Khaeril menjelaskan, sejumlah topik yang akan dibahas dalam kongres meliputi digitalisasi, pembinaan, dan pengembangan bahasa Sasak. Forum tersebut juga diharapkan menghasilkan rekomendasi konkret untuk memperkuat penggunaan bahasa daerah di masyarakat.
Hadirkan Pembicara dari Dalam dan Luar Negeri
Kongres ini direncanakan menghadirkan pembicara dari dalam negeri dan luar negeri. Sejumlah nama yang disebut akan mengisi forum tersebut antara lain Lalu Gita Aryadi, Prof. Mahyuni, dan Prof. Nuriadi.
BACA JUGA:KPK OTT di BNPB: Sestama dan 13 Orang Diamankan, Penyidik Sita Rp1,4 Miliar beserta Aset emas
Panitia juga menjadwalkan kehadiran Menteri Kebudayaan Fadli Zon serta Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti.
“Ada juga pembicara dari luar negeri, yaitu dari Australia, Singapura dan Brunei Darussalam (masih konfirmasi),” katanya.
Menurut Chae Khaeril, keterlibatan peneliti dari luar negeri yang mengkaji bahasa Sasak dapat memperkaya khazanah pengetahuan tentang bahasa dan kebudayaan masyarakat Sasak.
BACA JUGA:Kirab Budaya HUT ke-81 Lombok Tengah, Barongsai hingga Peresean Tampilkan Keberagaman
Dari sisi peserta, panitia awalnya merencanakan kehadiran sekitar 1.000 orang yang terdiri atas praktisi, guru, akademisi, penutur bahasa Sasak, dan masyarakat umum. Setelah melalui pembahasan, jumlah peserta dibatasi menjadi 600 orang, dengan sekitar 300 orang akan terlibat dalam diskusi dan pembahasan isu-isu bahasa Sasak.
Dorong Kamus hingga Jurusan Bahasa Sasak
Salah satu target kongres adalah menghasilkan rekomendasi untuk mendukung pengembangan bahasa Sasak. Beberapa gagasan yang diharapkan dibahas meliputi penyusunan kamus bahasa Sasak, penguatan pembelajaran bahasa daerah di sekolah, serta pembukaan program studi bahasa dan sastra Sasak di perguruan tinggi.
Chae Khaeril juga menilai diperlukan dukungan kebijakan pemerintah daerah untuk memperluas penggunaan bahasa Sasak, baik di lingkungan pendidikan maupun perkantoran.
Salah satu opsi yang diusulkan adalah penerbitan peraturan gubernur atau kebijakan sejenis yang mendorong penggunaan bahasa daerah pada hari tertentu.
“Dengan adanya peraturan gubernur, bisa dikemas penggunaan bahasa daerah di lingkungan perkantoran pada hari tertentu,” katanya.
BACA JUGA:Perindo Tak Ikut Polemik Ijazah Gibran, Fokus Persiapan Pemilu 2029
Ia berharap perguruan tinggi di Nusa Tenggara Barat juga dapat membuka program studi bahasa dan sastra Sasak, sebagaimana sejumlah perguruan tinggi di Jawa menyediakan program studi sastra Jawa.
“Kalau di Jawa ada perguruan tinggi yang membuka jurusan sastra Jawa, semoga di NTB ada perguruan tinggi yang membuka jurusan bahasa dan sastra Sasak,” ujarnya.
Chae Khaeril menegaskan, dukungan pemerintah provinsi serta pemerintah kabupaten dan kota di Pulau Lombok diperlukan agar upaya pelestarian bahasa Sasak dapat berjalan berkelanjutan.
“Dukungan dari pemerintah daerah dibutuhkan sebagai upaya merawat bahasa daerah,” katanya.
Melalui kongres tersebut, panitia berharap lahir gagasan dan rekomendasi yang dapat memperkuat posisi bahasa Sasak sebagai bahasa ibu sekaligus bagian penting dari identitas budaya masyarakat Lombok.
Sumber: