Tanggul Pantai Mapak Dibangun Rp15 Miliar, Bintaro Disiapkan Rp60 Miliar

Tanggul Pantai Mapak Dibangun Rp15 Miliar, Bintaro Disiapkan Rp60 Miliar

Anggota Komisi V DPR RI, H. Abdul Hadi, meninjau pelaksanaan pembangunan tanggul tersebut bersama pejabat Balai Wilayah Sungai (BWS) NTB I, Rabu (14/10/2026).-Ramli-

MATARAM, DISWAY LOMBOK — Pembangunan tanggul pengaman pantai di kawasan Mapak, Kelurahan Jempong Baru, Kota Mataram, mulai dilakukan untuk menangani abrasi yang mengancam permukiman warga. Proyek dengan alokasi anggaran sekitar Rp15 miliar itu menjadi tahap awal penanganan abrasi di kawasan Mapak dan Bintaro.

Anggota Komisi V DPR RI, H. Abdul Hadi, meninjau pelaksanaan pembangunan tanggul tersebut bersama pejabat Balai Wilayah Sungai (BWS) NTB I, Rabu (14/10/2026).

Abdul Hadi mengatakan, penanganan abrasi di Mapak dan Bintaro telah disampaikan kepada pemerintah pusat melalui rapat dengar pendapat di DPR RI. Usulan tersebut juga diperkuat surat dari Gubernur NTB dan Wali Kota Mataram.

“Kasihan memang keluarga kita. Dari waktu ke waktu, abrasi terus menggerus dan memakan tanah serta rumah warga. Oleh karena itu, alhamdulillah tahun ini kita mulai penanganan bencananya,” kata politisi PKS tersebut.

BACA JUGA:Karhutla Belum Terkendali, Komisi IV DPR RI Desak Pemerintah Tetapkan Status Bencana Nasional

Menurut Abdul Hadi, pembangunan tanggul dilakukan secara bertahap dengan memprioritaskan kawasan yang paling membutuhkan perlindungan. Tahap awal difokuskan di Mapak untuk melindungi rumah warga dari ancaman abrasi.

Ia menyebutkan, anggaran sekitar Rp15 miliar disiapkan untuk penanganan di kawasan Mapak. Sementara itu, penanganan abrasi di Bintaro direncanakan membutuhkan anggaran sekitar Rp60 miliar dan akan dilanjutkan pada tahap berikutnya.

“Tahun ini kita mulai pengamanan tanggul untuk beberapa meter yang ada dulu, khususnya untuk mengamankan rumah warga di sekitar Mapak. Tahun depan baru kita lanjutkan ke arah Bintaro,” ujarnya.

BACA JUGA:PAN NTB Siapkan Kader Pengganti LAZ, Tunggu Proses Hukum Inkrah

Abdul Hadi juga menyebut pembangunan jetty atau bangunan pengarah arus dan pemecah gelombang sebagai salah satu opsi penanganan jangka panjang. Namun, rencana tersebut memerlukan anggaran besar sehingga perlu dipersiapkan secara matang.

Sementara itu, Kepala BWS NTB I, Antonius Suryono, menjelaskan pengerjaan tanggul tahun ini mencakup kawasan pantai dari permukiman Mapak Indah hingga Mapak Dasan. Penanganan dibagi menjadi tiga segmen dengan prioritas pada kawasan padat penduduk dan titik yang membutuhkan perlindungan segera, termasuk rumah serta warung di tepi pantai.

Secara teknis, pembangunan tanggul direncanakan berada sekitar 20 hingga 25 meter dari bibir pantai ke arah laut.

Antonius mengatakan, sisa waktu pengerjaan hingga akhir Desember menjadi salah satu tantangan proyek. Karena itu, mobilisasi material dari kuari akan dioptimalkan pada sore hingga malam hari.

“Kami mohon dukungan warga sekitar pantai yang terdampak proyek ini. Akses jalan sangat penting karena material-material besar dari kuari tidak memungkinkan dibawa pada siang hari. Jadi, pengangkutan dan dropping material akan dilakukan pada sore hingga malam hari,” pungkasnya.

Sumber: