SMAN 10 Mataram Kenalkan Budaya Sasambo kepada Siswa

SMAN 10 Mataram Kenalkan Budaya Sasambo kepada Siswa

Pakaian adat Sasambo merepresentasikan tiga suku utama di NTB, yakni Sasak, Samawa, dan Mbojo.-Dedi Suhadi-

MATARAM, DISWAY LOMBOK — SMAN 10 Mataram mengenalkan kekayaan budaya Nusa Tenggara Barat (NTB) melalui penggunaan pakaian adat Sasambo dalam rangka memperingati Hari Kebudayaan Nasional, Kamis (15/10/2026).

Pakaian adat Sasambo merepresentasikan tiga suku utama di NTB, yakni Sasak, Samawa, dan Mbojo. Penggunaan pakaian adat ini menjadi salah satu upaya sekolah menumbuhkan kecintaan siswa terhadap budaya daerah.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMAN 10 Mataram, Jumadil, mengatakan pemilihan pakaian adat Sasambo disesuaikan dengan latar belakang sebagian besar siswa yang berasal dari tiga suku tersebut.

“Dengan menggunakan pakaian adat ini, kita menunjukkan kecintaan terhadap budaya sendiri. Kita juga ingin memperkenalkan dan melestarikan budaya daerah kepada para siswa,” ujarnya.

BACA JUGA:Polres Lombok Barat Siapkan 300 Personel Amankan Pilkades Serentak di 77 Desa

Menurut Jumadil, pelestarian budaya lokal semakin penting seiring berkembangnya pariwisata Lombok yang dikenal sebagai salah satu destinasi unggulan di Indonesia. Ia mengingatkan agar masyarakat, khususnya generasi muda, tidak kehilangan identitas budaya akibat pengaruh dari luar.

“Lombok sekarang menjadi salah satu destinasi wisata unggulan setelah Bali. Karena itu, kita harus melestarikan budaya sendiri. Jangan sampai kita justru tergerus oleh budaya luar dan melupakan budaya yang kita miliki,” katanya.

Pengenalan budaya di SMAN 10 Mataram tidak hanya dilakukan melalui penggunaan pakaian adat. Sekolah juga memberikan pembelajaran muatan lokal tentang kearifan lokal Sasak serta menggelar kegiatan Sabtu Budaya setiap pekan.

BACA JUGA:Gerakan Pangan Murah di Gunungsari Diserbu Warga, Beras hingga Telur Dijual di Bawah HET

Melalui kegiatan tersebut, siswa dapat mengenal dan mengekspresikan berbagai kesenian serta tradisi daerah. Kegiatannya meliputi permainan tradisional, peresean, drama cerita rakyat NTB, peragaan busana adat, hingga menyanyikan lagu daerah, seperti Kadal Nongak.

Siswa juga diperkenalkan dengan permainan tradisional Sasak, di antaranya terompah batok kelapa dan terompah panjang dari kayu.

Jumadil berharap kegiatan tersebut membuat siswa tidak sekadar mengenal budaya secara teori, tetapi juga memahami, menghargai, dan ikut melestarikannya dalam kehidupan sehari-hari.

BACA JUGA:Trans Bening Diuji Coba di SMPN 13 Mataram, 376 Siswa Berminat

Meski demikian, pelaksanaan kegiatan masih menghadapi kendala, terutama keterbatasan kepemilikan pakaian adat di kalangan siswa. Sebagian siswa harus mencari atau menyewa pakaian adat agar dapat mengikuti kegiatan.

Ia berharap kesadaran masyarakat untuk memiliki pakaian adat sesuai daerah asal semakin meningkat. Menurutnya, pengenalan budaya sejak bangku sekolah penting untuk menumbuhkan kebanggaan terhadap identitas daerah sekaligus menjaga warisan budaya di tengah perkembangan zaman.

Sumber: