Bupati Dompu Ungkap Hanya 10 Persen Guru Mampu Mengajar Baik

Bupati Dompu Ungkap Hanya 10 Persen Guru Mampu Mengajar Baik

Bupati Dompu Bambang Firdaus mengungkapkan, hanya 25 persen guru yang menguasai materi pelajaran. -Dedi Suhadi-

DOMPU, DISWAY LOMBOK  – Jumlah guru yang melimpah ternyata belum menjamin kualitas pendidikan di Kabupaten DOMPU. Bupati DOMPU Bambang Firdaus mengungkapkan, hanya 25 persen guru yang menguasai materi pelajaran, sementara yang mampu menyampaikannya dengan baik kepada siswa hanya 10 persen.

Bambang menyampaikan angka tersebut di hadapan para kepala sekolah. Dia menilai kondisi itu menjadi salah satu persoalan mendasar yang harus segera dibenahi, terutama ketika kepercayaan masyarakat terhadap sekolah negeri mulai menurun.

"Ini fakta di depan mata Bapak Ibu Kepala Sekolah yang harus dicarikan jalan keluarnya," ujarnya.

BACA JUGA:Peringati Hari Kebudayaan, BPK NTB Bakti Situs di Taman Mayura

Menurut Bambang, kepala sekolah tidak boleh sekadar menjalankan tugas administratif. Mereka harus tampil sebagai pemimpin pembelajaran yang mampu menggerakkan seluruh unsur sekolah, mulai dari guru, tenaga kependidikan, orang tua, siswa, hingga komite sekolah.

Pendidikan berkualitas, katanya, tidak mungkin dibangun oleh kepala sekolah seorang diri. Seluruh unsur tersebut harus bergerak dengan visi dan tujuan yang sama.

"Itu satu kesatuan ekosistem yang harus kita bangun untuk memajukan sekolah kita hari ini," tegas Bambang.

BACA JUGA:Ornamen Berbeda, Sasak Bali di Lombok Punya Identitas Sendiri

Bupati juga menyoroti perubahan pilihan orang tua dalam menentukan sekolah bagi anak-anak mereka. Menurut dia, sekolah negeri mulai ditinggalkan karena sebagian masyarakat lebih memilih Sekolah Islam Terpadu (SIT), meski harus bersaing untuk mendapatkan tempat dan mengeluarkan biaya lebih besar.

Kondisi itu, kata Bambang, seharusnya menjadi bahan evaluasi bagi pengelola sekolah negeri. Terlebih, dia mengaku menemukan kepala sekolah maupun guru yang justru tidak menyekolahkan anaknya di tempat mereka mengajar.

"Artinya kepala sekolah sendiri, guru sendiri, tidak lagi mempercayai sekolahnya. Lalu bagaimana kita mau memperbaiki dunia pendidikan?" ucapnya.

Bambang mengingatkan, tugas guru tidak boleh berhenti pada pemenuhan absensi, penerimaan gaji, sertifikasi, maupun pengelolaan dana. Guru harus memastikan proses pembelajaran benar-benar berdampak terhadap kemampuan siswa.

Persoalan lain yang disoroti adalah ketimpangan distribusi guru. Bambang mencontohkan sebuah sekolah yang memiliki 27 guru, tetapi hanya menampung 21 siswa.

Dia mengaku belum menemukan rumusan yang bisa menjelaskan komposisi tersebut. Menurut pemahamannya, rasio ideal adalah satu guru untuk 20 siswa.

Sumber: