Ia mencontohkan Desa Adat Sade di Lombok Tengah yang memiliki rumah adat, tarian, dan atraksi budaya sebagai daya tarik wisata. Potensi serupa dapat diperkuat melalui penyajian pengalaman yang menarik bagi wisatawan.
Dari sisi kuliner, Dwi menilai NTB memiliki beragam makanan khas. Namun, kualitas produk, kemasan, dan cara memperkenalkan cerita di balik makanan tersebut perlu mendapat perhatian.
"Jadi storytelling itu penting. Kadang kita kan sudah habis makan enggak ada ceritanya kita enggak bisa cerita ke mana-mana," jelasnya.
Menurutnya, cerita mengenai asal-usul makanan, tradisi, dan proses pembuatannya dapat menambah nilai pengalaman wisata. Dengan begitu, kuliner tidak hanya menjadi produk yang dikonsumsi, tetapi juga bagian dari identitas budaya yang dibawa pulang dalam ingatan wisatawan.
Dwi juga menyoroti keramahan sebagai faktor yang dapat membuat wisatawan merasa nyaman selama berkunjung. Ia membandingkan pengalaman tersebut dengan Labuan Bajo, Flores, yang juga ditetapkan sebagai salah satu dari 10 Destinasi Pariwisata Super Prioritas bersama NTB.
Berdasarkan pengamatannya selama setahun menjadi Pelaksana Tugas Direktur Utama di Labuan Bajo, ia menilai kenyamanan wisatawan menjadi salah satu faktor penting dalam perkembangan destinasi tersebut.
"Bandaranya dibuat itu untuk secara perencanaan untuk melayani satu juta wisatawan di 2029. Itu tercapai di 2025. Saya amati tadi. Mereka itu menganggap ke Labuan Bajo kayak di rumahnya sendiri gitu. Kayak pulang," ujarnya.