Lombok Barat, Disway Lombok - Paezul Bayani, nama yang tidak asing lagi bagi masyarakat di Desa Kekait Kecamatan Gunungsari Kabupaten Lombok Barat Nusa Tenggara Barat (NTB).
Pria kelahiran kelahiran 1972 ini sudah mendedikasikan hidupnya untuk mengurusi persoalan sampah sejak 2015 hingga saat ini.
Kepedulian Paezul terhadap persoalan sampah muncul saat dirinya menjadi anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Desa Kekait pada 2011-2013.
Saat itu, dalam setiap rapat antara BPD dengan pihak Pemerintah Desa Kekait selalu membahas persoalan sampah namun tidak pernah ada solusi atas persoalan yang dibicarakan.
"Akhirnya saya keluar dari BPD," terang Paezul Bayani saat Bincang dengan Disway Lombok, Senin 5 Oktober 2026.
BACA JUGA:ASN NTB Awards 2026 Digelar, Tujuh Kategori Siap Diperebutkan
Setelah keluar dari BPD pada 2013, Paezul Bayani fokus pada pengelolaan sampah dengan membentuk Rumah Kompos.
"Rumah Kompos mengkhususkan diri dalam pembuatan kompos yang bahan bakunya sampah organik," katanya.
Diperjalanan, ternyata persoalan sampah bukan hanya sampah organik tapi juga sampah an organik. Sampah organik teratasi tapi muncul persoalan baru, banyaknya sampah an organik seperti plastik dan lainnya yang tidak teratasi.
BACA JUGA:HUT TNI ke-81, Danrem 162/Wira Bhakti: TNI Harus Terus Hadir untuk Rakyat
Setelah melihat kondisi lapangan dan banyaknya persoalan sampah maka pada 2015 Paezul Bayani membentuk Bank Sampah Kekait Berseri" (KEBER). Bank Sampah ini tidak hanya mengolah sampah organik tapi juga mengolah sampah an organik,.
Tiga Program KEBER
Terbentuknya Bank Sampah Kekait Berseri (Bersih, Sehat dan Asri) membuka peluang baru dalam pengelolaan sampah.
Jika awalnya hanya fokus mengolah sampah organik menjadi kompos, dengan terbentuknya Bank Sampah maka persoalan sampah an organik pun menjadi hal yang harus diatasi.
Untuk mengatasi hal tersebut, jelas Paezul Bank Sampah KEBER membuat tiga program utama yakni Tabung Sampah, Barter Sampah dan Sedekah Sampah untuk tabung sampah, warga bisa membawa sampah an organik (plastik) ke Bank Sampah. Jumlah sampah yang dibawah kemudian ditimbang. Hasil penjualan sampah tersebut ditabung dan bisa diambil setiap bulan, tiga bulan, enam bulan atau satu tahun. 'Harga untuk setiap kilo sampah plastik Rp 2000," kata Paezul.
BACA JUGA:MotoGP Mandalika 2026: Polda NTB Perketat Akses Sirkuit dan Jalur Logistik
Sementara untuk program Barter sampah, jelas Paezul dibagi dalam dua kategori yaitu Tsabit dan Tsapuk.
Tsabit merupakan kepanjangan dari Tukar sampah dengan bibit, bisa berupa bibit cabe, terong atau bibit lainnya yang berkaitan dengan ketahanan pangan. Sedang Tsapuk kepanjangan dari Tukar sampah dengan pupuk.
"Program Tsabit banyak diminati warga sekitar lokasi Bank Sampah, sedang Tsapuk banyak diminati warga Mataram atau instansi yang membutuhkan pupuk untuk tanaman," jelas Paezul.
BACA JUGA:Veda Ega Pratama Finish Ke-11 di Motegi, Siap Tampil Maksimal di Mandalika
Sementara program ketiga yaitu sedekah. Sesuai namanya, program sedekah diniatkan bagi warga yang mau bersedekah sampah dan hasil penjualan sampah disedekahkan untuk kegiatan sosial.
"Hingga kini, program-program dari Bank Sampah KEBER masih berjalan," terang Paezul.
Pola Pengelolaan Sampah
Dalam mengelola sampah baik sampah organik maupun sampah an organik, ada beberapa pola yang dikembangkan Bank Sampah KEBER yaitu pembuatan Pupuk (kompos), pengembangbiakan magot, komposter dan kerajinan.
Untuk pembuatan kompos, Bank Sampah KEBER menggunakan metode Takakura. Dengan menggunakan metode Takakura, jika sudah berhasil membuat bibit pupuk maka setiap pekan pupuk organik bisa dipanen.
'Untuk pembuatan bibit pupuk Takaura butuh waktu tiga bulan. Setelah itu, sampah organik yang mau dibuat pupuk cukup dicampur dengan bibitnya, seminggu kemudian pupuk sudah bisa dimanfaatkan," katanya.
Metode lain untuk mengelola sampah organik, jelas Paezul dengan pengembangbiakan magot. Sampah organik bisa menjadi makanan magot dan tempat tumbuh kembang magot.
BACA JUGA:15 Atlet Surfing Dompu Bidik Kejurnas Bali, Lakey Diusulkan Jadi Venue PON 2028
Setelah memasuki masa panen, magot biasa dipisahkan dari tempat tumbuh kembangnya. Sisa tempat tumbuh kembang magot (bekas magot -kasgot), dipilah dan menjadi pupuk organik yang bagus untuk tanaman.
Selanjutnya, program komposter yakni memasukkan sampah dalam tong kompos, tetunya tong yang sudah dimodifikasi. Dari dalam tong komposter, akan didapat pupuk cair dan pupuk padat, yang bisa dimanfaatkan untuk tumbuh kembang tanaman.
Sementara untuk sampah an organik, menurut Paezul Bayani pihaknya membuat berbagai kerajinan seperti sajadah, tas, topi dan lainnya.
Hasil olah sampah an organik yang berupa kopiah, tas, sajadah, dan lainnya dijual kepada para wisatawan terutama wisatawan mancanegara dengan harga hingga 500 ribu rupiah.
"Harga yang ditawarkan tergantung tingkat kesulitan dalam membuat dan waktu yang dibutuhkan dalam pembuatannya," jelas Paezul.
BACA JUGA:Penyelundupan 560 Ribu Batang Rokok Ilegal Digagalkan Lanal Mataram, Nilainya Capai Rp831 Juta
Program Kemitraan
Setelah berjuang sekitar 10 tahun dalam pengelolaan sampah, Bank Sampah Kekait Berseri tidak hanya eksis dalam pengelolaan sampah baik organik maupun an organik tapi juga mampu menjalin kemitraan dengan pihak lain baik instansi pemerintah, perusahaan, perhotelan dan lainnya.
Tercatat, ada beberapa mitra swasta yang peduli dalam persoalan sampah seperti Hotel Holiday in, Hotel Merumata dan perusahaan Mutiara di Sekotong.
Bahkan, Hotel Holiday in sudah berhasil mengembangkan pupuk organik yang dimanfaatkan untuk tanaman yang ditanam di sekitar hotel.
"Hasil tanaman dimanfaatkan guna memenuhi kebutuhan hotel. Sekarang Hotel Merumata juga sedang mengembangkan pengelolaan sampah organik,' jelas Paezul.
Selain sebagai mitra dalam pengelolaan sampah, Paezul juga menjadi pendamping dari berbagai kelompok pecinta lingkungan yang ingin mengatasi permasalahan sampah tanpa menimbulkan masalah.
'Justeru dengan metode yang kami terapkan, sampah menjadi lebih bermanfaat bagi lingkungan," katanya.
Minim Bantuan Pemerintah
Selama kiprahnya mengelola sampah, Paezul Bayani mengaku minim perhatian pemerintah dan lebih banyak berjuang sendiri dalam pengelolaan sampah maupun pendanaan.
"Tahun ini ada bantuan dari pemerintah Desa Kekait untuk sewa lahan seluas 400 meter persegi yang selama ini dimanfaatkan guna mengelola sampah," ungkapnya.
Meski minim bantuan pemerintah, Paezul bertekad akan tetap terjun dalam mengelola sampah karena bisa membantu masyarakat dalam menjaga kebersihan.
"Kalau masyarakat sadar akan pentingnya kebersihan, mereka akan turut menjaga dan mengelola sampah dari rumah," harapnya.