Ornamen Berbeda, Sasak Bali di Lombok Punya Identitas Sendiri

Sabtu 17-10-2026,12:23 WIB
Reporter : Dedi Suhadi
Editor : Dedi Suhadi

MATARAM, DISWAY LOMBOK — Akulturasi budaya Sasak dan Bali yang berlangsung selama ratusan tahun melahirkan karakteristik tersendiri di Lombok. Perpaduan tersebut terlihat dalam arsitektur, ornamen bangunan, hingga tradisi yang berkembang di tengah masyarakat.

Keturunan Kerajaan Cakranegara Mataram, Anak Agung Made Jelantik Agung Barayang Wangsa, menegaskan bahwa budaya Sasak Bali di Lombok memiliki identitas yang berbeda dengan budaya Bali, meskipun terdapat unsur Bali di dalamnya.

"Sasak Bali (Lombok) tidak sama dengan Bali meski dalam masyarakat Sasak Bali ada unsur Bali," jelasnya saat ditemui di Taman Mayura, Cakranegara, Sabtu (17/10/2026).

BACA JUGA:70 Komunitas dari 19 Daerah Ramaikan Festival Tosan Aji Mataram

Menurutnya, karakteristik tersebut dapat dilihat dari berbagai unsur arsitektur dan ornamen bangunan yang berkembang di Lombok. Pengaruh Bali tetap menjadi bagian dari identitas budaya tersebut karena berkaitan dengan asal-usul leluhurnya.

"Sasak Bali punya karakteristik sendiri baik dari sisi arsitektur atau ornamen bangunan maupun lainnya meski unsur Bali tetap ada karena leluhur kami dari Bali," katanya.

Ornamen Bale Kambang Taman Mayura Berbeda

Salah satu contoh perbedaan itu, kata Anak Agung, dapat dilihat pada pintu gerbang Bale Kambang di kawasan Taman Mayura, Cakranegara.

BACA JUGA:Riset Nisan Kuno di Lombok Ungkap Stratifikasi Sosial Masyarakat Sasak

Ia menjelaskan, gerbang tersebut memiliki ukuran dan ornamen yang berbeda dibandingkan dengan pintu gerbang di Bali. Perbedaan itu menjadi salah satu penanda karakter arsitektur yang berkembang di Lombok.

"Dari ukuran, pintu masuk Bale Kambang lebih besar, begitu juga ornamen yang digunakan berbeda dengan ornamen pintu gerbang yang ada di Bali," ujarnya.

Bagi Anak Agung, keberadaan unsur budaya Bali di Lombok tidak menghilangkan identitas lokal yang telah terbentuk melalui proses akulturasi selama berabad-abad.

"Kami orang Lombok tapi kami juga tidak bisa dipisahkan dari Bali," katanya.

Ia juga mengajak masyarakat yang telah menetap di Lombok untuk tidak mempermasalahkan asal-usul seseorang. Menurutnya, kehidupan bersama perlu dibangun dengan sikap saling menghormati dan menghargai budaya setempat.

Ia mengingatkan pentingnya memegang prinsip, di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung, sebagai pedoman dalam hidup bermasyarakat.

Kategori :