BACA JUGA:SMAN 9 Mataram Meriahkan Hari Kebudayaan 2026, Luncurkan Gerakan Literasi GEBRAK PEJANGGIK
Penyelenggaraan Kongres Internasional Bahasa Sasak turut memperkuat upaya pelindungan bahasa daerah. Hasil kongres diarahkan untuk mendukung dokumentasi digital, penelitian kebahasaan, pengembangan sastra, serta pewarisan bahasa kepada generasi muda.
Ihwan menegaskan, penghargaan tersebut harus menjadi momentum untuk memperluas manfaat kebudayaan bagi masyarakat. Kebudayaan, menurutnya, tidak boleh hanya hadir dalam bentuk pertunjukan atau festival, tetapi harus menjadi sumber pengetahuan, kreativitas, sekaligus penghidupan.
“Para pelaku budaya tidak cukup hanya tampil di panggung. Mereka harus ikut tumbuh dan sejahtera. Generasi muda tidak cukup hanya menjadi penonton. Mereka harus menjadi pencipta, penerus dan duta kebudayaan NTB,” ujarnya.
Ia berharap penguatan kebudayaan dapat menjangkau berbagai ruang kehidupan, mulai dari sekolah, kampus, museum, desa, ruang publik, hingga pusat ekonomi dan media digital.
Dengan kekayaan manuskrip, bahasa daerah, tenun, seni tradisi, situs sejarah, dan pengetahuan lokal, NTB dinilai memiliki modal besar untuk mengembangkan kebudayaan sebagai kekuatan pendidikan, diplomasi, pariwisata, dan ekonomi daerah.
Pemprov NTB pun menegaskan penghargaan tersebut bukan garis akhir. Tantangan berikutnya adalah memastikan kebijakan pemajuan kebudayaan berjalan konsisten, pelaku budaya mendapat ruang dan kesejahteraan, serta warisan budaya tetap hidup dan diwariskan kepada generasi berikutnya.