Bahasa Sasak Bukan Sekadar Kata, Ada Rasa dan Simbol
Budayawan Sasak, Lalu Agus Fathurahman, menilai upaya menjaga bahasa Sasak tidak cukup hanya dengan mendorong masyarakat menggunakannya dalam percakapan sehari-hari.-Dedi Suhadi-
“Jadi bukan bahasa ibu (bahasa daerah yang diajarkan), tapi bahasa yang digunakan ibunya jadi bahasa sehari-hari,” jelasnya.
Pergeseran tersebut membuat anak-anak berpotensi kehilangan kesempatan mengenal bahasa Sasak sejak dini. Padahal, keluarga merupakan salah satu ruang utama tempat bahasa dan nilai budaya diwariskan secara alami.
Agus menekankan perlunya pemahaman struktural dan kultural agar penggunaan bahasa Sasak kembali menjadi bagian dari kehidupan masyarakat. Pelestarian bahasa, menurut dia, harus berjalan bersama dengan pemahaman terhadap budaya yang membentuknya.
BACA JUGA:Tokoh Agama Meninggal Usai Tuntaskan Doa Pembukaan Kongres Bahasa Sasak
“Kebersamaan dalam pemahaman budaya, bahasa dan kultur harus menjadi satu kesatuan. Sebab, salah satu identitas dari sebuah kultur atau budaya adalah bahasa. Ketika bahasanya tergerus, maka budayanya akan hilang dan identitasnya juga akan hilang,” katanya.
Ia mengingatkan bahwa keberlangsungan bahasa daerah juga bergantung pada kepedulian masyarakat untuk mengajarkannya kepada anak-anak. Tanpa pewarisan antargenerasi, bahasa Sasak berisiko semakin jarang digunakan dalam kehidupan sehari-hari.
Kongres Internasional I Bahasa Sasak diharapkan tidak hanya menghasilkan kesepakatan mengenai penulisan dan penggunaan bahasa, tetapi juga mendorong masyarakat kembali menjadikan bahasa Sasak sebagai bagian hidup keluarga. Sebab, bahasa akan tetap lestari bukan semata karena dibahas dalam forum, melainkan karena terus dituturkan dan diwariskan.
Sumber: