Bahasa Sasak Bukan Sekadar Kata, Ada Rasa dan Simbol

Bahasa Sasak Bukan Sekadar Kata, Ada Rasa dan Simbol

Budayawan Sasak, Lalu Agus Fathurahman, menilai upaya menjaga bahasa Sasak tidak cukup hanya dengan mendorong masyarakat menggunakannya dalam percakapan sehari-hari.-Dedi Suhadi-

MATARAM, DISWAYLOMBOK.ID – Bahasa Sasak bukan sekadar rangkaian kata untuk menyampaikan pesan. Di dalamnya terdapat rasa, ketulusan, dan simbol budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi. Namun, ketika semakin banyak keluarga beralih menggunakan bahasa Indonesia di rumah, keberlangsungan bahasa ibu masyarakat Sasak menghadapi tantangan.

Budayawan Sasak, Lalu Agus Fathurahman, menilai upaya menjaga bahasa Sasak tidak cukup hanya dengan mendorong masyarakat menggunakannya dalam percakapan sehari-hari. Pemahaman terhadap rasa bahasa dan cara menyampaikan pesan juga perlu diwariskan kepada generasi muda.

“Komunikasi sosial tidak hanya dengan menggunakan bahasa halus atau bahasa sehari-hari, tetapi ada rasa bahasa. Rasa bahasa adalah ketulusan, bagaimana seseorang mengeluarkan kalimatnya dengan tulus,” ujar Agus di sela Kongres Internasional I Bahasa Sasak di Mataram, Rabu (28/10/2026).

BACA JUGA:Revitalisasi RS Awet Muda Narmada Butuh Anggaran hingga Rp30 Miliar

Menurut dia, rasa bahasa itu dapat ditemukan dalam cara orang-orang tua dahulu menyampaikan nasihat. Mereka kerap menggunakan simbol atau ungkapan tidak langsung untuk menyampaikan pesan, alih-alih menegur seseorang secara terbuka.

Cara bertutur tersebut menjadi bagian dari kekayaan bahasa Sasak. Pesan tidak hanya dipahami dari kata-kata yang diucapkan, tetapi juga dari konteks, maksud, dan hubungan sosial antara penutur dengan lawan bicaranya.

“Kita ingat, bagaimana bicaranya orang-orang tua kita dulu, menasihati selalu dengan simbol-simbol, tidak secara langsung. Nah, ini yang dikatakan sebagai rasa bahasa dalam pragmatik bahasa Sasak,” katanya. 

BACA JUGA:Nurul Adha Pelajari Strategi Lombok Tengah untuk Tekan Kemiskinan

Agus menilai kekayaan tersebut perlu berjalan beriringan dengan upaya menyesuaikan bahasa Sasak dengan perkembangan zaman. Salah satu pekerjaan penting yang perlu dirumuskan melalui Kongres Internasional I Bahasa Sasak pada 28–30 Oktober 2026 ialah standardisasi penulisan.

Di tengah perkembangan teknologi digital, bahasa daerah perlu memiliki pedoman penulisan yang lebih jelas agar dapat digunakan secara konsisten dalam berbagai media, termasuk platform digital.

“Kita hidup di era digital, maka harus ada standardisasi penulisan. Dan ini harus menjadi produk Kongres Internasional I Bahasa Sasak,” tegasnya.

Namun, standardisasi saja tidak cukup untuk menghidupkan kembali bahasa Sasak sebagai bahasa ibu. Menurut Agus, bahasa tersebut harus terus ditransmisikan atau diwariskan melalui penggunaan nyata dalam keluarga dan kehidupan sehari-hari.

BACA JUGA:Kongres Internasional Bahasa Sasak Digelar, Ini Pesan Wagub NTB

Ia menyoroti kebiasaan sebagian orang tua yang tidak lagi menggunakan bahasa Sasak ketika berkomunikasi dengan anak-anak mereka. Kondisi itu antara lain dipengaruhi perkawinan campuran dan kehidupan di perkotaan, yang membuat bahasa Indonesia lebih sering digunakan di rumah.

Sumber: