LOMBOK UTARA, DISWAY LOMBOK – Gemericik air mengiringi langkah peserta saat menyusuri pematang sawah Teras Siring di kawasan hutan adat Bangket Bayan. Di tempat ini, alam bukan sekadar pemandangan. Sawah, hutan, mata air, dan tradisi menjadi bagian dari kehidupan masyarakat yang diwariskan turun-temurun.
Pengalaman itu menjadi bagian dari kegiatan Jelajah Bayan yang digelar Karang Taruna Desa Bayan bersama Dinas Kebudayaan NTB, Sabtu (24/10/2026). Sekitar 200 peserta dari kalangan pemerintah, instansi vertikal, jurnalis, hingga mahasiswa diajak mengenal lebih dekat kekayaan adat dan alam Desa Bayan, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara.
Berada di kaki Gunung Rinjani, Desa Bayan memiliki luas sekitar 37,16 kilometer persegi. Desa ini dikenal sebagai salah satu kawasan tua di Lombok yang menyimpan jejak penyebaran Islam sekaligus tradisi masyarakat adat yang masih bertahan hingga sekarang.
BACA JUGA:Jukir Liar di ATM Mataram Minta Uang, Warga Tak Perlu Bayar
Salah satu penandanya adalah Masjid Kuno Bayan Beleq, yang berkaitan erat dengan sejarah awal masuknya Islam ke Bayan. Jejak sejarah itu juga hidup dalam tradisi dan akulturasi budaya yang masih dijaga masyarakat setempat.
Jelajah Bayan dimulai pukul 09.00 WITA dengan ritual sembeq yang dipimpin Mangku Rumah Adat Timur, Raden Kertamono. Ritual ini menggunakan campuran sirih, pinang, dan kapur yang menghasilkan warna merah menyerupai darah.
“Kalau ada merah (darah), tentu badan kita akan segar bugar dan dapat melakukan kegiatan sehari-hari. Tapi kalau tidak ada darahnya, tentu tidak bisa berbuat apa-apa,” kata Raden Kertamono saat menjelaskan makna sembeq.
Setelah ritual, peserta mengunjungi Masjid Kuno Bayan Beleq sebelum melanjutkan perjalanan ke Hutan Adat Bangket Bayan. Kawasan seluas 57,9 hektare ini menyimpan lanskap persawahan Teras Siring yang dikelola masyarakat.
Di balik hamparan sawah tersebut, ada cara tersendiri bagi warga untuk mengelola lahan. Saci, salah seorang penggarap, menjelaskan bahwa pengelolaan sawah dilakukan melalui kesepakatan antara pemilik lahan dan penggarap, baik dengan sistem gadai maupun bagi hasil.
Dalam setahun, lahan persawahan Teras Siring dapat ditanami padi hingga tiga kali. Sebagian petani juga menyelingi tanaman padi dengan bawang meski jumlahnya tidak banyak.
“Tiga kali kami tanam padi setahun,” ujar Saci.
Peserta kemudian menyusuri parit yang menjadi saluran air bagi persawahan. Sepanjang perjalanan, mereka dapat melihat hamparan sawah dari sudut berbeda, pepohonan kemiri, serta aliran air yang mengiringi langkah menuju Sabang Sunset Point.
Kunjungan pada siang hari membuat peserta tidak bisa menikmati matahari terbenam. Namun, pemandangan dari titik tersebut tetap menarik perhatian. Sejumlah peserta memanfaatkan kesempatan untuk mengabadikan panorama alam Bayan.