Perjalanan berlanjut ke kolam pemandian Mandala yang berada di kawasan Hutan Adat Mandala. Airnya yang jernih membuat beberapa peserta langsung menceburkan diri. Bahkan, sebagian masih asyik menikmati kesegaran mata air ketika hidangan makan siang dibagikan.
Di Bayan, keindahan alam itu berjalan beriringan dengan keberadaan hutan adat. Kepala Desa Bayan Satradi menyebut desanya memiliki empat hutan adat, yakni Tiu Rarangan, Pengempokan, Mandala, dan Bangket Bayan.
Keempat kawasan tersebut menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat, baik dalam menjaga kelestarian alam maupun mempertahankan hubungan antara tradisi dan lingkungan.
“ Kami memiliki empat hutan adat, yakni Hutan Adat Tiu Rarangan, Hutan Adat Pengempokan, Hutan Adat Mandala, dan Hutan Adat Bangket Bayan,” jelas Satradi.
Setelah menjelajahi alam, peserta kembali ke Rumah Adat Timur untuk berdiskusi dengan tokoh adat dan jajaran pemerintah. Rumah adat tersebut sebelumnya mengalami kebakaran dan kini tengah menjalani renovasi.
Direktur Jenderal Bina Kepercayaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat, Sjamsul Hadi, berharap peserta dapat menyebarkan informasi yang benar dan berimbang mengenai kehidupan masyarakat Bayan.
Menurut dia, berbagai kajian tentang Bayan telah tersedia. Namun, pemahaman yang lebih luas tetap diperlukan agar informasi mengenai adat dan budaya setempat tidak berhenti pada cerita yang beredar di masyarakat.
“Kajian tentang Bayan sudah banyak. Para peserta Jelajah Bayan perlu menambah literasi sehingga informasi yang baik tentang Bayan bisa mengeliminir informasi-informasi yang kurang bagus,” katanya.
Kepala Dinas Kebudayaan NTB Muhamad Ihwan menilai Bayan memiliki potensi sebagai ekosistem kebudayaan yang berkaitan langsung dengan kehidupan dan perekonomian masyarakat.
Menurutnya, masyarakat adat telah memiliki nilai, sikap, dan tradisi yang menjadi modal penting. Peran pemerintah adalah mendukung pengembangan potensi tersebut sekaligus memperkenalkannya kepada masyarakat yang lebih luas.
“Bayan memiliki syarat itu. Kita tinggal mengemas dan memperkenalkannya sehingga masyarakat Bayan lebih percaya diri,” ujar Ihwan.
Bagi Hafizah dan Rahman, peserta Jelajah Bayan, perjalanan tersebut bukan sekadar wisata. Keduanya mengaku mendapat pengalaman baru meski harus menempuh perjalanan yang melelahkan.
Mereka mengingatkan agar kelestarian alam dan budaya tetap menjadi perhatian bersama. Sebab, daya tarik Bayan tidak hanya terletak pada panorama yang indah, tetapi juga pada cara masyarakat menjaga warisan leluhur.
“Lakukan reboisasi. Bagi masyarakat Lombok, jangan lupa untuk menjaga alam dan budayanya,” pesan mereka.