Lombok Utara Dorong Pariwisata dan Budaya Tumbuh Bersama
Berada di kaki Gunung Rinjani, Desa Bayan memiliki luas sekitar 37,16 kilometer persegi.-Dedi Suhadi-
LOMBOK UTARA, DISWAY LOMBOK – Promosi pariwisata LOMBOK UTARA tidak hanya bertumpu pada keindahan alam. Kekayaan adat dan budaya masyarakat juga menjadi daya tarik yang ingin diperkenalkan lebih luas, dengan tetap menghormati batasan tradisi yang dijaga masyarakat setempat.
Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Lombok Utara, Denda Dewi Tresni Budi Astuti, menegaskan pengembangan pariwisata dan pelestarian budaya harus berjalan beriringan. Menurutnya, Lombok Utara memiliki keunikan yang tidak hanya terletak pada destinasi wisata, tetapi juga pada adat istiadat yang masih hidup di tengah masyarakat.
“Kabupaten Lombok Utara memiliki sesuatu yang unik. Bukan hanya berbicara soal destinasi wisata, tetapi juga adat istiadat,” ujarnya, Senin (26/10/2026).
BACA JUGA:Puluhan Wartawan se-Pulau Sumbawa Ikuti OKK PWI, Dalami Etika Jurnalistik
Denda mengatakan, kekayaan budaya tersebut dapat menjadi bagian dari promosi pariwisata daerah melalui kolaborasi dengan berbagai instansi. Salah satu kawasan yang memiliki karakter budaya kuat adalah Bayan, tempat masyarakat masih menjaga tradisi dan nilai-nilai adat dalam kehidupan sehari-hari.
Namun, menurutnya, tidak semua tradisi dapat dijadikan bagian dari atraksi wisata. Pemerintah daerah perlu memahami batasan yang berlaku agar promosi pariwisata tidak mengganggu pelaksanaan ritual maupun nilai-nilai yang dianggap sakral oleh masyarakat adat.
“Makanya, kami berkomitmen untuk memajukan pariwisata dan budaya secara beriringan dan tentunya dengan takaran-takaran yang ada. Mana yang boleh menjadi destinasi wisata dan mana yang tidak boleh,” katanya.
BACA JUGA:Polda NTB Sita 1.734 Liter Pertalite Bersubsidi di Lombok Timur, Seorang Pria Diamankan
Ia menilai, kesadaran masyarakat terhadap potensi pariwisata menjadi modal penting dalam mengembangkan destinasi berbasis budaya. Pemerintah daerah selanjutnya dapat membantu memperkenalkan keunikan tersebut kepada wisatawan yang lebih luas, tanpa mengesampingkan aturan adat.
Bagi Denda, pengembangan pariwisata bukan berarti membuka seluruh aspek kehidupan adat untuk konsumsi wisatawan. Sebaliknya, promosi harus dilakukan dengan menghormati ruang, aturan, dan kesepakatan masyarakat yang menjaga tradisi tersebut.
“Kami menghormati adat istiadat. Kami akan seiring sejalan antara adat dan pariwisata,” tegasnya.
Sumber: