SMPN 18 dan SMPN 20 Jadi Pilot Project Pendidikan Karakter Berbasis Budaya

Sabtu 07-11-2026,14:48 WIB
Reporter : Ramli
Editor : Dedi Suhadi

MATARAM, DISWAYLOMBOK.ID – Dinas Pendidikan Kota Mataram menyiapkan dua sekolah negeri sebagai proyek percontohan pendidikan karakter berbasis budaya lokal. Program yang ditargetkan mulai berjalan tahun depan itu akan diterapkan di SMP Negeri 18 dan SMP Negeri 20 Mataram.

Kedua sekolah tersebut akan dikembangkan dengan fokus berbeda. SMPN 18 direncanakan menjadi sekolah berbasis olahraga, sedangkan SMPN 20 diarahkan sebagai sekolah vokasi yang mendalami kebudayaan dan potensi lokal peserta didik.

Sekretaris Dinas Pendidikan Kota Mataram Naufal Aldian mengatakan, program ini menjadi salah satu upaya membentuk karakter siswa sekaligus memperkuat pengenalan terhadap budaya daerah. Terlebih, anak-anak saat ini semakin mudah terpapar budaya asing melalui berbagai platform digital.

BACA JUGA:NTB Raih Anugerah Kebudayaan Indonesia 2026

"Jangan sampai anak-anak kita lebih mengenal budaya asing daripada budaya kita sendiri. Kebudayaan di Kota Mataram harus kita lestarikan dan kembangkan dengan cara yang baik, serta membutuhkan penguatan dari berbagai stakeholder," ujar Naufal, Jumat (6/11/2026).

Menurutnya, kebudayaan memiliki peran penting dalam membentuk karakter peserta didik. Karena itu, Dinas Pendidikan ingin menghadirkan kembali pengalaman dan pembiasaan budaya lokal yang terintegrasi dengan sistem lima hari sekolah.

Melalui dua sekolah percontohan tersebut, pemerintah juga ingin memetakan potensi siswa sejak dini. Pemetaan ini diharapkan menjadi dasar untuk menentukan bentuk pengembangan dan pelestarian budaya yang sesuai dengan minat serta kemampuan peserta didik.

BACA JUGA:Peringati Hari Kebudayaan, BPK NTB Bakti Situs di Taman Mayura

"Kami ingin memetakan potensi anak-anak kita. Ketika potensinya sudah dipetakan, kita jadi tahu ke arah mana kebudayaan ini harus dikonservasi dan diintegrasikan," tambahnya.

Dalam penyusunan kurikulum, Dinas Pendidikan berencana melibatkan kalangan akademisi. Langkah ini diperlukan agar muatan lokal yang diterapkan tetap selaras dengan Standar Nasional Pendidikan dan memiliki landasan yang kuat.

Selain kurikulum, kesiapan tenaga pendidik menjadi perhatian utama. Naufal menyebut peningkatan kompetensi guru akan terus dilakukan, termasuk dalam literasi digital dan keterampilan kreatif yang dapat diterapkan dalam pembelajaran.

Sejumlah praktik pengembangan kreativitas berbasis budaya sebenarnya sudah berjalan di sekolah lain. Di antaranya ekstrakurikuler kesenian Rudat di SMPN 9 dan Barongsai di SMPN 3 Mataram. Pengembangan keterampilan lain juga mencakup pembuatan batik dan pemanfaatan sampah plastik.

"Setiap ada program baru, tidak akan pernah luput dari ruang kritik. Namun, kita mampu meminimalisirnya dengan cara berdiskusi bersama, melibatkan para ahli, dan memastikan guru-guru kita siap secara kompetensi sebelum diterjunkan ke peserta didik," tegasnya.

Naufal menambahkan, pendidikan karakter berbasis budaya tidak harus selalu dimulai melalui program besar atau kegiatan khusus di sekolah. Nilai-nilai luhur justru dapat ditanamkan melalui kebiasaan sederhana dalam kehidupan sehari-hari.

Mulai dari membiasakan salam, berkomunikasi dengan santun, menumbuhkan empati, mengucapkan terima kasih, meminta maaf, hingga membangun kedisiplinan melalui kebiasaan merapikan tempat tidur di rumah.

Kategori :