Eksistensi Bahasa Sasak Bergantung pada Generasi Muda

Eksistensi Bahasa Sasak Bergantung pada Generasi Muda

Akademisi Universitas Mataram (Unram), Prof. Nuriadi Sayip, menegaskan bahasa dan budaya merupakan identitas yang membuat masyarakat Sasak dikenal sebagai sebuah suku bangsa.-Dedi Suhadi-

MATARAM, DISWAY LOMBOK — Keberlangsungan bahasa Sasak di tengah perubahan zaman bergantung pada kesadaran generasi muda untuk menggunakan dan melestarikannya. Peran keluarga dinilai penting agar bahasa ibu masyarakat Lombok itu tidak semakin tergerus oleh dominasi bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari.

Akademisi Universitas Mataram (Unram), Prof. Nuriadi Sayip, menegaskan bahasa dan budaya merupakan identitas yang membuat masyarakat Sasak dikenal sebagai sebuah suku bangsa.

"Kalau tidak ada bahasa dan budaya sebagai sesuatu yang sangat unik, maka tidak akan mungkin bangsa Sasak dikenal," katanya di sela Kongres Internasional I Bahasa Sasak yang berlangsung pada 28–30 Oktober 2026.

BACA JUGA:Kongres Internasional Bahasa Sasak Digelar, Ini Pesan Wagub NTB

Menurut Nuriadi, orang tua perlu menanamkan pemahaman kepada generasi muda, terutama Generasi Z dan Generasi Alpha, mengenai pentingnya bahasa dan budaya Sasak. Kesadaran tersebut perlu dibangun secara berkelanjutan agar mereka tidak hanya memahami, tetapi juga bangga menggunakan bahasa daerahnya.

"Minimal, mereka bangga sebagai anak suku Sasak, sebagai orang yang memiliki bahasa ibu bahasa Sasak, dan sebagai orang yang memiliki budaya Sasak," katanya.

Nuriadi menilai, salah satu keunikan bahasa Sasak terletak pada undah-unduh atau tingkatan berbahasa yang penggunaannya menyesuaikan lawan bicara serta konteks, tempat, dan waktu percakapan.

BACA JUGA:Bahasa Sasak Bukan Sekadar Kata, Ada Rasa dan Simbol

"Dengan adanya tingkatan dalam penggunaan Bahasa Sasak maka akan membentuk karakter budaya," ucapnya.

Ia mengingatkan agar tingkatan berbahasa tersebut tidak dipandang sebagai cerminan kasta sosial. Sebaliknya, tata krama, kesantunan, dan sikap saling menghormati yang tercermin melalui penggunaan bahasa harus dipahami sebagai bagian dari nilai luhur budaya Sasak.

"Jangan dinilai sebagai sebuah tingkatan berbahasa yang mencerminkan kasta sosial di masyarakat Sasak. Jangan sampai itu. Justru kita harus menerima ini sebagai budaya yang luhur," ungkapnya.

Pelestarian bahasa Sasak, lanjutnya, perlu dimulai dari tumbuhnya kebanggaan terhadap identitas sendiri. Dengan begitu, generasi muda diharapkan tetap menggunakan bahasa ibu dan menjaga nilai-nilai budaya yang terkandung di dalamnya di tengah perubahan lingkungan dan pola komunikasi masyarakat.

Sumber: