Dikpora NTB: Pendidikan Harus Tanamkan Nilai Budaya, Etika, dan Moral
Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Dikpora) NTB, Dr. Samsul Hadi, mengatakan budaya merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pendidikan.-Dedi Suhadi-
MATARAM, DISWAY LOMBOK — Pendidikan tidak cukup hanya mengajarkan pengetahuan akademik. Nilai-nilai budaya, etika, dan moral juga perlu terintegrasi dalam proses belajar mengajar agar menjadi bekal siswa menghadapi pengaruh negatif perkembangan teknologi.
Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Dikpora) NTB, Dr. Samsul Hadi, mengatakan budaya merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari pendidikan. Karena itu, pengembangan pendidikan harus berjalan seiring dengan penguatan nilai-nilai budaya yang tumbuh di masyarakat.
"Budaya merupakan bagian yang tak terpisahkan dari pendidikan," jelas Samsul Hadi, Senin (26/10/2026).
BACA JUGA:DLH Lombok Barat Gerakkan Gotong Royong Atasi Tumpukan Sampah
Menurutnya, penerapan nilai budaya tidak hanya dilakukan melalui mata pelajaran tertentu, tetapi juga harus hadir dalam setiap aktivitas pembelajaran. Guru matematika, misalnya, tidak hanya menyampaikan materi pelajaran, tetapi juga perlu menunjukkan cara berkomunikasi, bersikap, dan menghargai orang lain di dalam kelas.
Guru, kata Samsul, memiliki peran penting dalam menanamkan nilai-nilai tersebut melalui proses belajar mengajar maupun interaksi sehari-hari di sekolah.
Interaksi antara siswa dengan siswa maupun siswa dengan guru juga menjadi ruang untuk membangun etika dan moral. Dengan demikian, pendidikan tidak hanya berorientasi pada penguasaan materi, tetapi turut membentuk karakter peserta didik.
"Tentunya, dalam interaksi itu ada nilai-nilai budaya, etik, dan moral yang tidak bisa dipisahkan dari pendidikan," katanya.
Samsul juga menyoroti penggunaan gawai atau gadget yang semakin luas di kalangan masyarakat, termasuk pelajar. Ia tidak menampik bahwa kebiasaan menggunakan gawai secara berlebihan dapat menjadi tantangan bagi pelestarian nilai-nilai budaya.
Menurutnya, perkembangan teknologi berpotensi membuat masyarakat semakin jauh dari budaya yang selama ini menjadi bagian dari kehidupan sosial. Padahal, nilai budaya dapat menjadi penyaring dalam menghadapi pengaruh negatif dari kemajuan teknologi.
"Jika budaya terus dikembangkan di sekolah maka budaya bisa menjadi filter dari pengaruh yang kurang baik dan budaya akan tetap lestari," jelasnya.
Meski demikian, Samsul menegaskan pelestarian budaya tidak bisa hanya dibebankan kepada sekolah dan guru. Peran orang tua, masyarakat, pemerintah daerah, serta berbagai pemangku kepentingan diperlukan untuk membangun lingkungan yang mendukung tumbuhnya nilai-nilai budaya.
"Gerakan bersama perlu dikembangkan. Orang tua, sekolah, masyarakat, pemerintah daerah dan stakeholder lainnya harus bersama-sama membangun ekosistem budaya yang tumbuh kembang di masyarakat," tegas Samsul Hadi.
Sumber: