Sekolah di Mataram Ini Gabungkan Belajar, Berkebun hingga Yoga

Sekolah di Mataram Ini Gabungkan Belajar, Berkebun hingga Yoga

Anak tidak hanya diperkenalkan pada materi, tetapi juga diajak mempraktikkan keterampilan dalam kegiatan sehari-hari.-Edy Gustan-

MATARAM, DISWAY LOMBOK – Berkebun, yoga, berenang, hingga belajar budaya lokal menjadi bagian dari aktivitas pendidikan anak usia dini di Amara Montessori School, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB). Kegiatan tersebut memperlihatkan bagaimana proses belajar anak dapat berlangsung di luar rutinitas pembelajaran di dalam kelas.

Sekolah yang berlokasi di Jalan Terusan Bung Hatta Nomor 21, Kelurahan Pejanggik, ini menggelar syukuran gedung baru pada Selasa (28/10/2026). Anggota DPR RI, Dr. Ir. H. Nanang Samodra, turut hadir dalam kegiatan tersebut dan mengapresiasi upaya pengembangan pendidikan anak usia dini di NTB.

Salah satu hal yang membedakan pendekatan Montessori adalah penekanan pada kemandirian anak. Dalam proses belajar, anak diberi kesempatan mengeksplorasi lingkungan, mencoba berbagai aktivitas, dan mengembangkan kemampuan sesuai tahap perkembangannya dengan pendampingan guru.

BACA JUGA:Bahasa Sasak Bukan Sekadar Kata, Ada Rasa dan Simbol

Kepala Sekolah Amara Montessori School, Endah Mursidah Ahyar, M.Pd., menjelaskan bahwa pembelajaran di sekolah tersebut mencakup lima bidang utama, yakni keterampilan hidup, sensorial, matematika, bahasa, serta budaya atau kosmik. Kegiatan seni, musik, dan gerakan juga menjadi bagian dari proses pembelajaran.

Anak tidak hanya diperkenalkan pada materi, tetapi juga diajak mempraktikkan keterampilan dalam kegiatan sehari-hari. Berkebun, misalnya, dapat menjadi sarana mengenal lingkungan dan merawat tanaman. Sementara kegiatan yoga dan berenang memberi pengalaman untuk mengenal gerak tubuh serta melatih koordinasi.

Sekolah ini juga menerapkan sistem kelas lintas usia atau mixed-age group, yang menggabungkan anak berusia 3–6 tahun dalam satu kelas. Dalam pendekatan tersebut, anak didorong belajar sesuai kemampuan masing-masing sekaligus berinteraksi dengan teman yang berbeda usia.

BACA JUGA:Revitalisasi RS Awet Muda Narmada Butuh Anggaran hingga Rp30 Miliar

Selain kegiatan di lingkungan sekolah, terdapat pula pembelajaran bahasa Inggris, pengenalan seni dan budaya lokal, serta program sister class bersama panti asuhan. Kegiatan terakhir membuka ruang bagi anak untuk berinteraksi dengan lingkungan sosial yang lebih luas.

Menurut Endah, pembelajaran mengacu pada Kurikulum Merdeka yang dipadukan dengan pendekatan Montessori. Materi pendidikan mencakup nilai agama dan budi pekerti, pembentukan jati diri, serta dasar-dasar literasi, matematika, sains, teknologi, rekayasa, dan seni.

Pendekatan ini menempatkan proses bermain sebagai bagian penting dalam belajar. Anak diberi kesempatan mencoba, mengamati, dan menyelesaikan aktivitas dengan dukungan lingkungan yang telah disiapkan serta arahan guru.

Anggota DPR RI Nanang Samodra berharap kehadiran lembaga pendidikan anak usia dini dapat ikut memperkuat kualitas pendidikan di NTB. Ia menilai masa awal kehidupan merupakan tahap penting dalam membangun karakter dan kemandirian anak.

BACA JUGA:Nurul Adha Pelajari Strategi Lombok Tengah untuk Tekan Kemiskinan

“Semoga kehadiran Amara Montessori School ini menjadi ruang tumbuh anak yang hangat dan bermakna untuk pendidikan anak. Gedung ini menjadi tempat anak-anak belajar, bereksplorasi, dan tumbuh bahagia,” ujar Nanang.

Sumber: