MATARAM, DISWAY LOMBOK — Pengembangan pariwisata di Nusa Tenggara Barat (NTB) dinilai membutuhkan perubahan pola pikir. Pariwisata tidak cukup dipandang sebagai industri, tetapi perlu menjadi bagian dari identitas dan kehidupan masyarakat agar mampu berkembang lebih luas.
Asisten Deputi Pengembangan Amenitas dan Aksesibilitas Pariwisata Wilayah II Kemenparekraf, Dwi Marhaen Yono, mengatakan cara pandang tersebut menjadi salah satu hal yang perlu dibangun untuk mendorong kemajuan pariwisata NTB.
"Kalau pariwisata sudah bisa menjadi identitas maka pariwisata di NTB akan bisa berkembang seperti di Bali," katanya saat rapat koordinasi tata kelola kawasan strategis pariwisata berkelanjutan, Senin (12/10/2026).
BACA JUGA:Polres Lombok Barat Tangkap Dua Terduga Pengedar Sabu, Sita 72,42 Gram
Menurut Marhaen, potensi budaya NTB juga perlu lebih banyak dihadirkan sebagai atraksi wisata. Kekayaan warisan budaya yang dimiliki daerah ini dinilai belum sepenuhnya mudah dijumpai wisatawan dalam bentuk pertunjukan atau pengalaman wisata.
"Saat ini, masih kesulitan untuk dapat menemukan atraksi budaya, padahal provinsi NTB memiliki banyak warisan budaya," katanya.
Marhaen menekankan pentingnya keterlibatan pemerintah daerah dan berbagai sektor dalam mengembangkan pariwisata. Menurut dia, urusan pariwisata tidak semestinya hanya menjadi tanggung jawab organisasi perangkat daerah (OPD) yang membidangi sektor tersebut.
BACA JUGA:El Nino Berkepanjangan, Dampak Kekeringan di Mataram Masih Nihil
Ia mencontohkan pendekatan yang diterapkan di Banyuwangi, Jawa Timur. Dalam pendekatan tersebut, seluruh OPD didorong memiliki pola pikir yang mendukung pengembangan pariwisata, termasuk melalui program yang sesuai dengan bidang masing-masing.
Sektor pertanian, misalnya, dapat mengembangkan kawasan petik buah yang memberi kesempatan kepada wisatawan untuk menikmati pengalaman langsung. Produk pertanian tidak hanya dijual sebagai komoditas, tetapi juga dikemas sebagai aktivitas wisata yang memiliki nilai tambah.
Marhaen mencontohkan, jeruk yang dijual di pasar seharga Rp 5.000 per kilogram dapat memiliki nilai jual lebih tinggi melalui konsep petik sendiri, terlebih jika disertai pendampingan dan penjelasan mengenai asal-usul serta karakter buah tersebut.
BACA JUGA:Penghasilan Badut Jalanan Mataram Tembus Rp16 Juta Sebulan
"Memang harus begitu untuk menaikkan nilai," katanya.
Pendekatan lintas sektor tersebut, menurut Marhaen, dapat menjadi salah satu cara untuk menghubungkan potensi lokal dengan pengalaman wisata. Dengan demikian, pengembangan pariwisata tidak hanya bertumpu pada destinasi, tetapi juga melibatkan budaya, pertanian, dan kehidupan masyarakat setempat.