MATARAM, DISWAY LOMBOK — Pembebasan lahan untuk pembangunan Jalan Terusan Batu Bolong-Nuraksa di Kota Mataram masih menghadapi kendala. Sejumlah warga di beberapa titik belum bersedia melepaskan tanahnya, sementara masyarakat di bagian selatan meminta pemerintah memulai pembebasan dari wilayah tersebut sebagai bukti keseriusan pembangunan.
Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Mataram Lale Widiahning mengatakan, pihaknya mempertimbangkan perubahan urutan pembebasan lahan dengan memprioritaskan wilayah selatan.
"Kami mempertimbangkan membebaskan lahan bagian selatan dulu untuk mengambil perhatian masyarakat sebagai bentuk keseriusan pemerintah," ujar Lale, Rabu (21/10/2026).
BACA JUGA:Penghapusan Pokir DPRD Dinilai Berlebihan, Akademisi UIN Mataram Dorong Perbaikan Tata Kelola
Sebelumnya, Dinas PUPR merencanakan pembebasan lahan dimulai dari bagian utara. Pertimbangannya, jumlah bidang tanah di wilayah tersebut lebih banyak, tetapi ukurannya relatif kecil.
Sebaliknya, pemilik lahan di bagian selatan lebih sedikit dan pada prinsipnya telah bersedia melepaskan tanah mereka. Namun, luas lahan yang harus dibebaskan di wilayah itu lebih besar.
Menurut Lale, berdasarkan pemetaan sementara, kebutuhan lahan untuk pembangunan jalan tersebut mencakup sekitar 56 bidang tanah dengan total luas diperkirakan mencapai 1,2 hektare.
BACA JUGA:El Nino, 125 Hektare Sawah di Mataram Tunda Musim Tanam
Meski rencana pembebasan mulai diarahkan dari selatan, nilai ganti rugi belum dapat ditentukan. Pemerintah masih menunggu hasil penilaian resmi dari tim penilai atau appraisal.
Pengukuran dan pemetaan bidang tanah yang sedang berjalan akan menjadi dasar bagi tim penilai untuk menghitung nilai wajar lahan. Setelah nilai tersebut ditetapkan, pemerintah akan memprioritaskan bidang tanah yang memungkinkan dibayarkan lebih dahulu dengan mempertimbangkan kemampuan anggaran daerah serta kelengkapan dokumen kepemilikan.
Pemkot Mataram berharap perubahan strategi pembebasan lahan dapat memperkuat kepercayaan masyarakat dan mencegah proses pengadaan tanah berlarut-larut.
Jalan Terusan Batu Bolong-Nuraksa diproyeksikan menjadi jalur alternatif untuk mengurai kepadatan lalu lintas, terutama di Jalan Gajah Mada dan Jalan Bung Karno. Namun, realisasi pembangunan masih bergantung pada penyelesaian proses pembebasan lahan.