MATARAM, DISWAYLOMBOK.ID – Fenomena geng motor dan kekerasan yang melibatkan remaja di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB), dinilai telah menjadi alarm sosial bagi seluruh elemen masyarakat. Terlebih, aksi kekerasan yang berujung pada hilangnya nyawa seorang anak menunjukkan persoalan tersebut tidak bisa lagi dianggap sebagai kenakalan remaja biasa.
Akademisi Ilmu Komunikasi Universitas Mataram (Unram), Dr. Ir. Agus Purbathin Hadi, menilai fenomena tersebut perlu dilihat lebih jauh dari sekadar perilaku individu. Ada persoalan relasi sosial, pembentukan identitas kelompok, hingga proses komunikasi dalam keluarga dan lingkungan pergaulan yang turut memengaruhi perilaku remaja.
Menurutnya, perilaku kekerasan tidak terbentuk begitu saja. Remaja tumbuh melalui berbagai interaksi, mulai dari keluarga, teman sebaya, sekolah, lingkungan masyarakat, hingga media digital.
BACA JUGA:Berkas 13 Tersangka Pembacokan Udayana Segera Dilimpahkan
Melalui proses komunikasi tersebut, mereka belajar memahami nilai, norma, cara menyelesaikan konflik, serta memperoleh pengakuan dari lingkungan sosialnya.
"Fenomena geng motor yang berujung pada jatuhnya korban jiwa merupakan alarm sosial bagi kita semua. Dari perspektif ilmu komunikasi, persoalan ini bukan sekadar tentang remaja yang melanggar aturan, tetapi juga bagaimana nilai, identitas, dan perilaku kekerasan terbentuk melalui komunikasi dalam keluarga, kelompok pertemanan, dan lingkungan sosial," ujar Agus.
Ia menegaskan, penanganan kekerasan remaja tidak cukup hanya mengandalkan pendekatan hukum. Pembenahan komunikasi sosial secara menyeluruh juga diperlukan agar perilaku kekerasan tidak terus berkembang di lingkungan pergaulan anak muda.
BACA JUGA:Ternyata Begini Kronologi Pembacokan di Udayana yang Tewaskan Pelajar 14 Tahun
Pengakuan Kelompok Bisa Membentuk Perilaku Agresif
Agus menjelaskan, salah satu faktor yang perlu mendapat perhatian adalah kuatnya kebutuhan remaja untuk memperoleh pengakuan dari kelompok sebaya.
Pada usia tersebut, penerimaan dalam kelompok pertemanan sering kali menjadi bagian penting dalam pembentukan identitas diri. Persoalan muncul ketika keberanian dan solidaritas kelompok justru diukur melalui tindakan agresif.
Jika lingkungan pergaulan memberikan penghargaan terhadap perilaku kekerasan, tindakan tersebut berisiko dianggap sebagai sesuatu yang wajar, bahkan menjadi simbol keberanian dan kesetiaan terhadap kelompok.
BACA JUGA:Polresta Mataram Tangkap 13 Pelaku Pembacokan di Udayana
"Pada usia remaja, kebutuhan memperoleh pengakuan sosial sangat kuat. Ketika seorang anak merasa bahwa keberanian dan kesetiaan kepada kelompok harus dibuktikan melalui kekerasan, di situlah proses komunikasi kelompok telah membentuk norma yang keliru," jelasnya.
Karena itu, menurut Agus, tantangan masyarakat adalah menghadirkan lingkungan pergaulan yang mampu memberikan penghargaan terhadap prestasi, kreativitas, dan perilaku positif.